KUNINGAN.COM Persoalan sampah di sejumlah wilayah pedesaan Kabupaten Kuningan kembali menjadi sorotan. Bukan sekadar pemandangan yang mengganggu, sampah yang menumpuk di sekitar sungai dan saluran air juga berpotensi menghambat aliran air hingga meningkatkan risiko banjir.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN Kolaboratif Kabupaten Kuningan Tahun 2026 turun langsung melalui Aksi Pandawara KKN Kolaboratif. Sebanyak lima kelompok mahasiswa yang ditempatkan di lima desa melakukan aksi bersih-bersih secara serentak pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Lima desa yang menjadi lokasi aksi yakni Desa Pakembangan, Desa Kutakembaran, Desa Gewok, Desa Cirukem, dan Desa Kadatuan, Kecamatan Garawangi.
Koordinator Tim Aksi Pandawara KKN Kolaboratif Kabupaten Kuningan Tahun 2026, Wahid Aropi, mengatakan aksi tersebut muncul dari keresahan mahasiswa setelah menemukan persoalan sampah yang relatif sama di sejumlah desa lokasi KKN.
“Tujuan acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran, terutama kepada teman-teman mahasiswa KKN. Di lima desa tersebut kami menemukan permasalahan yang sama, yaitu persoalan sampah,” ujar Wahid.
Menurut Wahid, sampah masih banyak ditemukan di sejumlah titik, khususnya kawasan pinggiran sungai dan saluran air. Karena itu, mahasiswa memilih melakukan aksi langsung dengan membersihkan lokasi yang telah dipenuhi sampah.
“Karena itu kami melakukan aksi bersih-bersih di lokasi yang memang sudah banyak sampah, seperti di pinggiran sungai dan selokan,” katanya.
Aksi dilakukan secara serentak oleh masing-masing kelompok KKN sesuai desa penempatan. Selain membersihkan lingkungan, kegiatan tersebut diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat agar tidak menjadikan sungai dan saluran air sebagai tempat pembuangan sampah.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dari sejumlah titik yang dibersihkan, mahasiswa berhasil mengumpulkan 270 trash bag sampah.
Desa Pakembangan menjadi salah satu lokasi aksi dengan 57 trash bag dari tiga titik. Sementara Desa Kutakembaran mengumpulkan 63 trash bag dari dua titik dan Desa Gewok sebanyak 58 trash bag dari dua titik.
Adapun Desa Cirukem mengumpulkan 10 trash bag dari satu titik, sedangkan jumlah terbanyak ditemukan di Desa Kadatuan dengan 85 trash bag dari tiga titik.
Banyaknya sampah yang berhasil dikumpulkan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebersihan lingkungan masih membutuhkan perhatian dan penanganan secara berkelanjutan.
Wahid berharap gerakan tersebut tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Ia mendorong masyarakat bersama pemerintah desa untuk melanjutkan upaya menjaga kebersihan serta membangun pengelolaan sampah yang lebih baik.
“Kami mengajak masyarakat di lima desa tersebut untuk sama-sama menjaga lingkungan, terutama dalam hal sampah. Mari membuang sampah pada tempat yang telah disediakan oleh pemerintah desa dan tidak lagi membuang sampah ke sungai,” tuturnya.
Ia menilai kebiasaan membuang sampah ke sungai maupun saluran air dapat menimbulkan dampak lebih luas. Selain mencemari dan mengurangi kebersihan lingkungan, sampah yang menumpuk berpotensi menyumbat aliran air dan meningkatkan risiko banjir saat hujan deras.
Melalui Aksi Pandawara, mahasiswa KKN Kolaboratif ingin menegaskan bahwa persoalan sampah bukan semata-mata tanggung jawab mahasiswa. Masyarakat, pemerintah desa, dan seluruh elemen lingkungan memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan.
Aksi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan imbauan. Diperlukan aksi nyata, perubahan kebiasaan, kesadaran bersama, serta program yang berkelanjutan agar persoalan serupa tidak terus berulang.



